Minggu, 16 Oktober 2011

22 desember 2010


Entahlah. Habis sudah kataku untuk mengungkapkan ini. Menggambarkan kecewa, sedih, bahagia, benci, cinta, dan semua rasa ini, yang terasa amat rumit.
Aku takkan menyalahkan kamu, dia, atau siapapun itu. Sudahlah, ini semua salahku. Lagi-lagi aku berbuat salah, yang akhirnya membunuhku sendiri, yang akhirnya merajam jantungku sendiri. Aku sengaja membuat lubang, dan akhirnya aku sendiri yang terperosok. Aku sengaja bermain api, dan akhirnya aku sendiri yang terbakar.
Tuhan, sudah cukup, aku takkan mengeluh lagi. Biarlah semua berjalan apa adanya. Aku takkan meminta ini, meminta itu, atau meminta dia dan cintanya lagi. Biar dia datang, jika memang itu yang telah Kau takdirkan. Sudah cukup, mencintainya saja sudahlah sebuah anugrah dan kenikmatan besar.
Akan kujaga rasa ini, takkan kunodai, takkan aku bermain api lebih jauh lagi.
Aku ingin kembali seperti dulu lagi, saat tiada rasa dihati ini untukmu, saat aku tak pernah memperdulikan hadirmu, saat aku tak menghabiskan waktu hanya untuk duduk lesu didepan handphone dan menunggu sebuah pesan darimu hingga larut malam. Aku sudah sangat bodoh dan salah berbuat seperti ini.
Aku takkan menyalahkan rasa, aku takkan memaki cinta.
Sudahlah biar, akan kujaga rasa ini. Akan kuhormati rasa ini, akan kunikmati kesendirian dalam mencinta ini. Aku takkan kecewa, aku takkan mengeluh, aku takkan marah saat tiada balas akan rasa ini. Biarlah kecewa ini melebur bersama waktu. naluri marah dan cemburu ini mengalir dan menguap dengan sendirinya. Biarlah, mungkin akan terasa sedikit sakit, mungkin akan terasa sedikit berbeda, tapi aku yakin...tak lama aku akan segera terbiasa.
Terbiasa dengan kecewa, terbiasa dengan cemburu, terbiasa dengan luka, terbiasa dengan kesendirian, terbiasa dengan tangis, terbiasa dengan cinta tak terbalaskan.
Jika kamu datang, maka akan kusambut. Jika kamu tak datang, maka aku takkan mengganggumu, maka aku akan diam, maka aku takkan menunggu.
Aku sadar, aku sedang mencintai orang yang sedang jatuh cinta pada orang lain.
Kuterima itu, karena rasa ini adalah anugrah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar